Karya Mahasiswa


UPAYA MEWUJUDKAN MAHASISWA
DALAM TULIS MENULIS


Oleh: Hidayatullah*

“Menulislah, selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah. Sebab, dengan menulis berarti kita telah menyisakan kenangan yang cukup berarti bagi generasi kita kelak“
(Pramoedya Ananta Toer)

            Berbicara masalah tulis menulis, saya kira menjadi sebuah diskursus yang sudah tidak asing dan menarik lagi dalam benak para pembaca (baca : mahasiswa) karena selama kita menyandang gelar mahasiswa di tuntut untuk memiliki keterampilan dalam tulis menulis atau bahkan hukumnya bisa dikatakan wajib, sebab dalam dunia kampus mahasiswa kerapkali di suguhi dan di cekoki dengan berbagai tugas seperti membuat makalah, laporan hasil baik PKL maupun praktikum, resensi, serta resume.
            Dengan adanya tugas tersebut memberikan pengaruh besar terhadap kemandirian mahasiswa dan dapat melatih kecerdasan dan keterampilan dalam mengimplimentasikan sebuah ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan secara kritis dan sistematis, walaupun tidak jarang dengan kehadiran tugas tersebut hanya dijadikan sebagai “ pencurian intelektual “ dalam artian mahasiswa hanya mengapload blog orang lain di internet. Di samping itu, tidak jarang pula mahasiswa hanya mengcopy – paste dari hasil tugas temannya, biasanya mahasiswa inilah yang memiliki karakter “ pemalas “.
            Gejala ini yang banyak di alami dalam dinamika mahasiswa yang hidup di sebuah kampus dan sering saya temukan mahasiswa yang tidak bisa menyusun hasil penelitiannya dalam bentuk skripsi sehingga jalan satu-satunya yang  mereka (baca : mahasiswa) ambil ialah membeli hasil skripsi orang lain dalam memenuhi syarat mendapatkan gelar srata-1 (S 1).
            Oleh karena itu, untuk mengatasi gejala di atas dan mewujudkan serta menghasilkan mahasiswa yang memiliki keterampilan dalam tulis menulis sehingga mereka tidak dikatakan sebagai subjek “ pencuri intelektual “, maka dapat dilalui dan diatasi dengan beberapa syarat yang penulis sebutkan di bawah ini.
            Syarat pertama adalah “ terus membaca “. Membaca menjadi syarat pertama dan paling utama dalam tulis menulis. Sebab, dengan membaca pengetahuan dan wawasan kita akan semakin bertambah, menyenangkan, dan mencerdaskan. Membaca ibarat makanan bagi tubuh kita, tanpa makanan tubuh kita jadi lemas, letih, tidak bertenaga dan akhirnya mati. Begitu juga dengan otak manusia. Tanpa membaca, otak kita tidak akan dapat bekerja secara maksimal akibat kekurangan “ gizi “.
            Karena itu, membaca merupakan kewajiban dalam tulis menulis. Sehingga, tidak salah apa yang dikatakan oleh Minda Perangin Angin yaitu Pelajar tanpa buku, bagiku bukan pelajar dan sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah.
            Syarat kedua adalah “ terus menulis “. Menulis memiliki fungsi sederhana yakni mengingat (kan). Dalam pepatah Arab mengatakan bahwa “ ilmu itu liar “ maka ikatlah ilmu kita dengan dinamika atau tali menulis.
            Menulis tidak lain hanya menuangkan ide dan gagasan kita dalam bentuk tulisan. Otak yang sudah kita beri makanan (membaca) dengan sendirinya akan menghasilkan energi dasyat berupa pengetahuan yang luas.  Energi yang dasyat itu percuma bila tidak dimanfaatkan atau digunakan.
            Menulis juga merupakan kewajiban bagi seorang yang belajar tulis menulis. Sebab, menulis adalah kerterampilan yang ada pada setiap individu, keterampilan itu memerlukan latihan yang intensif. Terus menulis adalah latihan untuk menjadi terampil dalam menulis. Dinamika menulis merupakan harga mati untuk menjadi penulis.
            Dua syarat di atas inilah yang harus di tempuh bagi para mahasiswa dalam mewujudkan dunia tulis menulis. Sehingga, mereka bisa belajar mandiri dalam mengerjakan tugas yang disuguhi oleh para dosen, serta tidak mengcopy-paste tugas punya temanya.

*Penulis Adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Periode 2012-2013.

0 komentar:

Poskan Komentar